Masyarakat kita kini terperangkap dalam dunia informasi dan opini yang deras, yang semakin memenuhi ruang publik, baik secara fisik maupun digital. Namun, ada sebuah fenomena mengkhawatirkan yang muncul di tengah maraknya arus informasi ini: jika kita amati di kolom komentar media sosial seperti Instagram, Tiktok, X (Twitter), Facebook, dan Youtube, banyak lahir perdebatan yang tak kunjung berujung pada solusi. Dari politik, ekonomi, hingga isu sosial, kita terus terjebak dalam perdebatan yang melelahkan dan tak produktif. Bukannya mengurai masalah, perdebatan ini malah memperburuknya dengan manipulasi informasi dan pembingkaian isu yang sesat. Saya coba memahami fenomena ini melalui lensa Dead Horse Theory, sebuah metafora yang menggambarkan kebuntuan berpikir dalam masyarakat kita.

The Dead Horse Theory berakar dari pepatah suku Dakota yang berbunyi, “Jika kamu menyadari bahwa kamu sedang menunggangi kuda mati, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah turun.” Dalam konteks ini, kuda mati menggambarkan pendekatan atau sistem yang sudah jelas tidak efektif, tetapi terus dipertahankan. Alih-alih mengakui kegagalan dan mencari solusi baru, banyak orang lebih memilih untuk mengganti pelana, mencari joki baru, atau bahkan menyalahkan orang lain yang sebelumnya menunggang kuda tersebut.

Fenomena ini terlihat jelas di ruang publik, terutama di media sosial, di mana kita terus terjebak dalam perdebatan yang berulang dan tidak membawa kita ke mana-mana. Daripada menyelesaikan masalah, diskusi malah berputar pada narasi yang manipulatif dan memecah belah.

Filsuf Jerman Jurgen Habermas pernah memperingatkan tentang “kolonialisasi dunia kehidupan oleh sistem,” di mana rasionalitas instrumental strategi yang lebih mengutamakan efisiensi dan hasil cepat mengalahkan rasionalitas komunikatif yang seharusnya mendorong dialog terbuka dan pemahaman bersama. Dalam konteks ini, ruang publik yang ideal, yang seharusnya menjadi tempat diskusi jujur, digantikan oleh komunikasi manipulatif yang lebih berfokus pada kemenangan opini daripada pencapaian pemahaman yang mendalam.

Fenomena ini juga terkait dengan Dunning-Kruger Effect, teori yang dikembangkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999. Teori ini menjelaskan bagaimana orang dengan kemampuan rendah dalam suatu bidang cenderung melebih-lebihkan pengetahuan mereka, bahkan hingga berbicara dengan sangat yakin tentang hal-hal yang mereka tidak pahami. Dalam dunia media sosial, kita juga sering melihat fenomena ini, ketika orang yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang tertentu seperti epidemiologi, ekonomi, atau hukum berbicara dengan percaya diri, hanya berdasarkan kutipan dari video viral atau potongan berita. Efek ini mengaburkan pemahaman yang rasional dan berbasis data, menciptakan ekosistem informasi yang penuh dengan opini semu dan menutup ruang bagi analisis yang lebih hati-hati dan berbasis

Fenomena ini semakin diperparah dengan lahirnya para pendengung (buzzer). Politisi mencari dukungan buzzer dan influncer untuk membangun bias kognitif mengglorifikasi mereka. Ini memperparah dilema nalar rasionalitas publik dan hilang dari kebenaran akar masalah. Mereka yang paling vokal dan merasa yang paling tahu, sementara pengetahuan para ahli yang memahami kompleksitas justru sering terpinggirkan. Dengan bantuan algoritma membuat masyarakat lebih menyukai kontroversi daripada pergulatan pengetahuan.

Ini adalah contoh konkret dari “menunggang kuda mati” dalam birokrasi: strategi yang terbukti tidak efektif tetap dipertahankan demi menjaga ilusi stabilitas. Selaras perkataan Antonio Gramsci, intelektual Marxis Italia: Kita hidup dalam masa peralihan, di mana sistem lama belum ditinggalkan, dan yang baru belum mampu dibangun. Di tengah kekosongan ini, lahirlah kebijakan dan wacana yang membingungkan dan menyesatkan. Ruang publik dan digital terlihat kosong pengetahuan, hanya kebijakan simbolik, reaktif, dan manipulatif.

Fenomena The Dead Horse Theory kini menciptakan kelelahan kolektif. Masyarakat bosan dan merasa apatis dengan perdebatan yang tidak membawa perubahan nyata. Ketika solusi tidak kunjung datang, kita mencari kambing hitam. Kita menyalahkan kelompok lain, sistem global, bahkan masyarakat itu sendiri. Manipulasi dan disinformasi menjamur, memperpanjang usia kebuntuan berpikir. Ini adalah bentuk dari kebijakan defensif yang melanggengkan status quo.

Untuk keluar dari siklus tersebut, kita perlu keberanian kolektif untuk “turun dari kuda mati.” Pertama, kita harus membangun budaya diskusi yang lebih sehat, rasional, dan berbasis pada fakta, bukan opini sesaat. Pemerintah perlu mengadopsi evidence-based policy making, yaitu kebijakan yang disusun berdasarkan data dan riset yang mendalam, bukan sekadar respon populis terhadap opini publik. Selain itu, penting untuk mendorong partisipasi publik yang lebih cerdas, di mana kritik bukan hanya untuk menyerang, tetapi untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang masalah yang ada.

Seperti yang dikatakan oleh Socrates, filsuf Yunani kuno, pencarian kebenaran sering dimulai dengan keraguan. Dalam dunia yang penuh dengan keyakinan semu, kita justru perlu lebih banyak keraguan, bukan untuk menunda tindakan, tetapi untuk memastikan bahwa setiap tindakan didasarkan pada pemahaman yang benar dan jernih.

The Dead Horse Theory mengingatkan kita bahwa tidak semua hal pantas dipertahankan. Kita perlu berani berhenti, berani mengubah pendekatan, dan berani mengakui bahwa jalan yang kita tempuh tidak selalu benar. Di ruang publik maupun dalam kebijakan, keberanian untuk “turun dari kuda mati” bukanlah tanda kegagalan, tetapi tanda bahwa kita siap memasuki fase berpikir dan bertindak yang lebih matang.

Karena pada akhirnya, kuda yang mati tidak akan pernah membawa kita ke mana pun, tak peduli seberapa keras kita cambuk.

 

Sumber:

Habermas, Jürgen. 2010. Ruang Publik: Sebuah Kajian tentang Kategori Masyarakat Borjuis. Diterjemahkan oleh Yudi Santoso. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

On Think Tanks | The dead horse theory and think tanks https://share.google/qWPdXPnEeL35kbk2g

Efek Dunning-Kruger: Tentang Ketidaktahuan Diri Sendiri – ScienceDirect https://share.google/8Yvis7s7mKXwI0zOg

Wahyudi dkk, Dunning Kruger Effect: Argumen Individu Mewujudkan Percaya Diri, Jurnal Manajemen Pendidikan